Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Jalan Sunyi, Jalan Wara'

alfawani.com - Wara' adalah suatu kedudukan luhur yang tidak bisa dicapai oleh siapapun, kecuali oleh orang yang hatinya selalu bergantung pada akhirat serta zuhud dari dunia dan keindahannya yang fana. Setiap kali zuhud dan wara' seorang hamba bertambah, bertambah pulalah kesempurnaan penghambaanya kepada Allah SWT, dan pada gilirannya dia akan mendapatkan cinta-Nya.

Suatu ketika Rasulullah Muhammad SAW berpesan kepada Abu Hurairah r.a, beliau bersabda "(Wahai Abu Hurairah), jadilah engkau (hamba yang) wara', niscaya engkau akan menjadi Ahli Ibadah paling baik di antara manusia" (HR. Ibnu Majah; Hadits Hasan).

Manawi berkata, "menurut sebagian ulama, wara' adalah meninggalkan segala sesuatu yang membuat anda ragu, menepis segala sesuatu yang dapat menodai Anda, memilih hal yang lebih meyakinkan, dan menggiring nafsu kepada hal-hal yang berat untuk dikerjakan"

Ada juga yang mendefinisikan, "meninggalkan hal-hal yang lumrah (tidak berbahaya) supaya berhati-hati terhadap hal-hal yang membahayakan."

Ibnu Taimiyah berkata, "wara' adalah meninggalkan segala sesuatu yang ditakuti akibatnya, baik itu karena sudah diketahui keharamannya ataupun masih diragukan pengharamannya. Dengan syarat meninggalkan perkara (yang belum tentu haram tersebut) tidak menimbulkan kerusakan lebih besar daripada melakukannya."

Sementara itu, menurut Ibnu Qoyyim, "wara' adalah meninggalkan hal-hal yang dikhawatirkan akan mendatangkan bahaya di akhirat."

Wara' adalah sikap kehati-hatian. Memilih tidak mendekatu suatu perkara yang dikhawatirkan mendatangkan dosa, meskipun hukum awalnya perkara itu diperbolehkan. Sikap seperti ini sangat tidak disukai hawa nafsu. Meninggalkan kemaksiatan yang notabene menyenangkan saja, Hawa nafsu tidak suka, apalagi meninggalkan sesuatu yang belum jelas keharamannya dikarenakan takut membahayakan urusan akhiratnya. Maka tambah terkekanglah hawa nafsu dan syahwat, apakah orang-orang Wara' akan merana hidupnya? karena banyak ruang-ruang kesenangan mereka yang mereka hindari?. Tentu saja tidak. Jaminan Nabi bahwa orang Wara' akan menempati kedudukan Abid (Ahli Ibadah) paling Abid justru menjadikan keadaan sebaliknya, Yaitu orang-orang wara' akan mendapatkan celupan kebahagiaan dari Allah SWT.

Ibadah artinya menghamba. Pelakunya disebut Ibaad atau orang-orang yang menghamba. Perhatikanlah di dalam Al-Qur'an, semua sebutan menggunakan istilah "ibaad" atau "Hamba", semisal "hambaKu" dalam surat Al Baqarah 186, "hamba Ar-Rahman" dalam surat Al-Furqan 63, "HambaNya" surat Al-Isra' ayat 2, semua merujuk pada sapaan lembut dan cinta dari Allah SWT. Allah SWT menyenangi, bangga, mencintai, memuliakan orang hamba tersebut.

Perhatikanlah beberapa ayat berikut :

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran". (QS. Al Baqarah 186).

"Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keelamatan". (QS. Al-Furqan 63).


Nurul Hikmah hal.7 - 8 | Edisi 174 Juli 2018

إرسال تعليق

0 تعليقات